Search YouTube

Jumat, 20 Februari 2009

pengorbanan VS cinta

Sudah sekian kalinya gadis mungil yang mempunyai nama Dera, menatap bangku kosong yang berada disamping bangkunya, biasanya bangku itu ditempati Reza teman sebangkunya, sudah beberapa hari ini dia tidak masuk sekolah karena sakit.
“ Ngapain juga gw mikirin dia, harusnya gw ini senang kalau dia ngga masuk jadi gw bisa hidup tentram, ngga ada lagi yang jahilin gw,” pekik Dera dalam hati sambil menarik nafas dan sesekali menatap bangku kosong disebelahnya.
“ Kenapa, mikirin dia?” tanya Chika teman dekat Dera disekolah selain Reza, sambil melirik ke arah bangku Reza.
“ Siapa juga yang mikirin dia, gw malah senang dia ngga masuk,”
“ Iya, gw percaya, tapi mata lw, ngga bisa bohong loh!” ujar Chika, sambil meninggalkan meja Dera.

Sekarang adalah hari keempat Reza tidak masuk kesekolah, dengar gosip-gosip yang beredar kalau Reza terkena usus buntu. Dan sekarang anak-anak sekelas ingin menjenguk Reza, tapi yang diperbolehkan menjenguk Reza di jam sekolah hanya Perangkat-perangkat kelas saja, yang lain apabila ingin menjenguknya diluar jam sekolah. Dera ingin sekali menjenguk Reza, tapi dia bukan perangkat kelas, jadi jenguknya sepulang sekolah.
Dera tidak semangat untuk melaksanakan audisinya, padahal jauh sebelum audisinya dimulai, Dera sangat antusias untuk mendapat kesempatan menjadi paduan suara inti dalam memeriahkan ulang tahun les vocalnya.
Dengan letih Dera jalan menuju pintu depan untuk menunggu dijemput oleh papahnya. Ia baru pertama kali merasakan kangen, karena tidak bertemu dengan Reza padahal biasanya kalau Reza tidak masuk, Dera biasa saja tidak merasakan kangen, mungkin kali ini Dera sedang merasakan indahnya Jatuh cinta.
“ Kamu kenapa, ko’ kayanya murung banget mukanya?” tanya papah didalam mobil sambil menatap wajah putrinya.
“ Ngga kenapa-kenapa, oh ya Pah, tadi aku kan audisi buat paduan suara inti, aku diterima audisi tahap pertama,” jawab Dera dengan muka yang riang.
“ Oh ya selamat ya,” ucap Papah.
Blip_Blip_Blip, bunyi getar HP Dera saat sampai didepan gerbang rumahnya.
“ Hallo,” jawab Dera saat melihat layar HPnya Privat Number.
“ Hallo Tedy Bear ku, kangen nih sama sekolah,” ucap Reza dengan kencang.
“ Tady Bear, Tady Bear, nama gw Dera tau, kenapa lw ngga masuk-masuk, bengek ya?” omel Dera dengan rasa senang, kalau Reza ngga kenapa-kenapa.
“ Sialan lw, biasa nih penyakit kangen sama gw, makanya dia nemplok dibadan gw,”
“ Udah lah kalau bengek ngaku aja, ngga usah malu,” ledek Dera.
“ Enak aja, ko’ lw ngga jenguk gw sih, kan gw kangen sama lw,” jawab Reza sambil ketawa-tawa.
“ Aduh jadi ngga enak hati nih, dikangen nin sama lw,”
“ Ia gw kangen sama pipi gembul lw, yang asyik buat dicubit,”
“ Rese banget sih, cubit pipi lw aja sendiri,” jawab Dera kesal. Sambil menutup pembicaraan mereka karena disuruh turun sama Papahnya.
Rasanya malam ini Dera bisa tidur dengan pulas tidak usah memikirkan kabar Reza lagi. Dera tadi menyempatkan menelephone Reza meneruskan pembicaraan yang tadi, katanya dia memang kena usus buntu, tapi sudah dioperasi dari tiga hari yang lalu jadi tinggal tunggu waktu istirahat dirumah sakit selama dua hari lagi.

“ Kayanya nih temen gw lagi jatuh cinta dech,” tebak Chika saat bertemu Dera didepan kelas.
“ So’ tau, siapa coba yang lagi jatuh cinta,” jawab Dera berbohong dia memang bukan orang yang terbuka dengan masalahnya walaupun sama sahabat yang terdekatnya, lain dengan Chika yang selalu menceritakan apa saja kepada Dera tanpa ada satu pun yang tertinggal.
“ Ya marah, gw kan cuma tebak raut muka lw, soalnya semenjak Reza ngga masuk kesekolah, muka lw sedih banget,” alasan Chika kenapa dia menebak Dera sedang jatuh cinta, memang sih benar itu yang terjadi, tapi Dera tetap tidak akan mau memberitahu kepada siapa saja.
Kelas sudah mulai ramai didatangi oleh murid-murid yang lain, Dera tetap berharap kalau tiba-tiba wajah tampan Reza tampak dalam segerombolan anak-anak yang datang, tapi sayang tidak juga ketemu wajah Reza. Setelah setengah jam pelajaran dimulai tiba-tiba terdengar ketukan pintu dikelasnya, dalam hati Dera berharap bahwa yang mengetuk pintu itu adalah Reza, dan apa yang diharapkan oleh Dera terkabul wajah tampan Reza tampak dari balik pintu, betapa senangnya hati Dera saat melihatnya.
“ Ko’ lw udah masuk, bukannya kata lw semalam lw pulang dari rumah sakitnya dua hari lagi?” tanya Dera masih dengan kaget bercampur senang melihat wajah tampan Reza sekarang berada lagi disampingnya.
“ Iya sih harusnya gitu, tapi gw kan dioperasi udah dari kemarin-kemarin jadi kayanya gw sekarang udah sembuh dech,” jawab Reza sambil mengeluarkan buku catatannya.
Beberapa kali Dera mencoba menatap wajah Reza apabila mereka berdua sedang berbicara, tapi hati Dera selalu deg-degan apabila dua bola mata Dera berhadapan dengan dua bola mata Reza.
“ Lw kenapa sih, gw kan disini bukan disana,” protes Reza saat mengajak ngobrol Dera dan Dera menjawab dengan mata yang kemana-mana.
“ Ngga kenapa-kenapa, gw juga heran gw lihat mata lw, kepala gw malah jadi pusing,” jawab Dera lagi dengan kebohongan lagi, Dera berdoa dalam hati semoga tuhan mau memaafkannya yang dari tadi tidak berbicara jujur.
“ Ah yang benar lw, apa jangan-jangan itu dokter mala praktek lagi yang seharusnya obat apa, malah jadi obat Usus buntu gw, makanya jadi begini mata gw,” jawab Reza tidak menyadari kebohongan yang dibuat Dera dan Dera bernafas lega Karena Reza tidak menyadarinya kalau Dera sebenarnya suka dengannya.
Sudah tiga hari Reza masuk kesekolah rasanya hati Dera senang banget. Hari ini Reza harus kontrol ke rumah sakit, Dera baru tahu kalau sebenarnya Reza itu takut minum obat, jadi semua obatnya berbentuk puyer, memang benar ya semua orang didunia ini tidak ada yang sempurna, pasti ada salah satu kelemahannya.
“ Dera, gw boleh kan duduk sama lw?” tanya Chika tiba-tiba mengngagetkan Dera yang sedang melamun sendirian di mejanya yang berada dipojok kelas dua meja paling belakang.
“ Boleh, kenapa lw mau curhat sama gw,” tebak Dera, memang kebiasaan Chika setiap minggu dia harus menyerahkan segumpal curhatan kepada Dera dan Dera harus mendengarkan, walaupun kadang-kadang yang dibicarakan Chika Dera tidak mengerti.
“ Yups, bener banget,” jawab Chika dan mulai curhat panjang lebar ke Dera.
“ Tapi BTW, kayanya dari dulu gw yang selalu curhat sama lw, sekali-kali lw dong yang curhat sama gw, masa lw ngga pernah punya masalah sih?” tanya Chika bingung.
“ Iya sih, gw juga inginnya kaya lw terbuka ngga menutupi apapun, tapi sayang gw bukan orang yang kaya gitu, gw lebih suka menyendiri mikirin masalah gw sendiri, tapi gw janji rahasia lw ngga bakal ada satu pun yang bocor ditangan gw,” janji Dera sambil memberikan kelingkingnya dan disambut dengan kelingkingnya Chika.

Sekarang Dera Janji untuk mengajak Reza ke Dufan, setelah Reza sembuh total, sebab sekarang sudah sebulan dari peristiwa operasi itu. Mereka pergi ke Dufan berdua saja, banyak orang yang mengira kalau mereka sepasang kekasih, dalam hatinya Dera berdoa semoga semuanya akan terjadi, dia menjadi kekasih Reza yang tampan ini.

Hari ini hari Senin, jadi Dera mulai lagi melakukan aktifitasnya seperti biasanya. Dikelas Dera kedatangan murid baru bernama Katya dia pindahan dari Bandung, orangnya sangat cantik dan anggun apalagi gosipnya dia seorang model sebuah majalah dan sempat membintangi beberapa sinetron, beda sekali dengan Dera yang rada-rada tomboy. Katya duduk disamping tempat duduk Dera dan Reza. Saat pertama kali Katya duduk dibangkunya, Dera sempat melihat Katya senyum kepada Reza dan disambut oleh Reza, Dera pikir itu adalah senyuman perkenalan, tapi dugaannya salah sudah hampir beberapa hari ini Dera memergoki Katya sedang curu-curi pandang ke Reza.
“ Lw kenapa sih, kayanya wajah lw sinis banget ke anak baru itu?” tanya Reza saat ingin pulang sekolah sambil melihat kearah Katya.
“ Siapa coba yang sinis, gw BT aja lihat tampang mereka semua,” jawab Dera sambil menunjuk kearah Katya and Ganknya.
“ Lw pasti cemburu sama gw, soalnya dari kemarin gw dekat sama Katya,” tebak Reza. Memang dari kemarin Katya itu selalu merebut Reza dari Dera, ada saja yang ingin meminta bantuan oleh Reza mulai dari menayakan dimana Perpustakaan sampai mengajak Reza main kerumahnya, untuk melihat koleksi komik-komik Shincan milik Katya.
“ Mikir aja sendiri,” ucap Dera sinis sambil meninggalkan Reza yang bingung atas jawaban Dera.
Siang itu Dera memutuskan untuk pulang sendiri dengan angkot dan menolak ajakan pulang bareng dengan Reza menggunakan motornya. Sampai di kamar Dera menangis dan dia bingung kenapa Reza tidak pernah menyadari kalau sebenarnya Dera suka dengannya. Dera rela hujan-hujan ke rumah Reza hanya untuk meminjamkan catatannya, selalu mengirimkan ucapan selamat tidur tiap malam, selalu ada kalau Reza mau curhat, selalu mau kalau diajak Reza menemaninya bermain Basket, apa itu semua kurang untuk menunjukan rasa sukanya.
Dera terbangun saat mendengar suara HPnya, ternyata dari tadi dia tertidur pulas, saat memikirkan Reza. Dua laporan masuk pertama, dari tempat lesnya yang berisi Dera lulus audisi ke tiga dan itu artinya dia lulus menjadi paduan suara inti, dan mulai latihan setiap hari Sabtu-Minggu jam tiga sore. Dan SMS satunya lagi dari Reza katanya nanti malam dia mau menemani Katya nonton, dan Reza mengajak Dera untuk ikut nonton bersamanya. Dengan berat hati Dera menolak ajakan Reza karena dia tahu kalau dia ikut itu akan menambah rasa sakit hatinya melihat Reza dengan Katya bermesraan. Akhirnya malam minggu yang cerah itu dihabiskan oleh Dera dengan menonton koleksi DVDnya.
“ Dera gw mau tanya nih sama lw?” tanya Katya suatu hari saat Dera dan Chika sedang makan di kantin.
“ Tanya apaan?” balik tanya Dera sambil melihat kearah Katya.
“ Hubungan lw sama Reza,” jawabnya datar.
“ Hubungan gw sama Reza, maksud lw?” tanya Dera lagi sekarang lebih tidak mengerti.
“ Iya hubungan lw berdua itu apaan sih, pacarannya?” sekarang malah Katya yang balik bertanya.
“ Oh jadi lw mau tau hubungan gw sama Reza,” jawab Dera sambil senyum-senyum kecil. “ Apa ya, temen dekat kali ya, kenapa lw suka sama dia?”
“ Boleh dibilang begitu,” ucap Katya mengagetkan hati Dera. Ternyata benar apa yang ditakuti Dera kalau Katya itu juga suka sama Reza.
“ Oh, jadi sih kutu kuperet itu ada juga toh yang suka,” celetuk Chika.
“ Lw mau ngga nyomblangin gw sama dia?” tanya Katya dengan wajah penuh berharap iya.
“ Gimana ya, nanti malam lw telephone gw aja deh,” ucap Dera dengan berat, Dera ngga rela mengucapkan tidak, saat melihat wajah Katya yang memelas.
“ Ya udah deh, thanx ya,” bilang Katya sambil meninggalkan Dera dan Chika.
Dengan keberanian diri Chika menayakan kabar Dera yang berubah menjadi pucat, sejak berbicara dengan Katya. “ Sorry, bukannya gw maksa sama lw, tapi gw bingung lw itu suka apa ngga sih sama Reza?”
“ Ngga tau,” jawab Dera sambil menggeleng dan berlari menuju toilet wanita. Chika bertambah bingung terhadap sikap temannya ini, dan dia memutuskan untuk tidak akan menanyakan masalah ini ke Dera.
Pada malam harinya Reza datang kerumah Dera, untuk mengetahui kabar Dera, soalnya tadi Dera izin pulang sebelum jam pulang.
“ Ngapain lw kerumah gw?” tanya Dera ke Reza saat menemuinya ditaman depan.
“ Mau tau keadaan lw,” jawab Reza.
“ Kabar gw kaya yang lw lihat, sehat walaafiat,”
“ Ko’ gitu sih Der lw sama gw, gw ada salah sama lw, kalau memang iya gw minta maaf dech,” ucap Reza sambil memohon maaf ke Dera, sebenarnya sih Reza ngga salah soalnya dia ngga tau apa-apa.
“ Lw ngga salah,”
“ Trus?” tanya Reza lagi.
“ Di luar sana ada cewek yang suka sama lw, cantik, anggun, baik, yang akan selalu menunggu lw” jawab Dera so’ bijak.
“ Maksud lw,” ucap Reza lagi.
“ Maksud gw, Katya suka sama lw,” jawab Dera lagi.
“ Katya suka sama gw,”
“ Iya, katya cinta sama lw,”
“ Tapi…,”
“ Kenapa Za, dia cantik, anggun, baik, perfect, cocok buat lw,”
“ Denger gw Der, yang selama ini selalu ada dihati gw cuma lw, lw yang ada dalam setiap waktu buat gw, bukan Katya, tapi lw Dera,” jelas Reza ke Dera.
“ Sorry, gw memang suka sama lw tapi Katya lebih butuh lw dari gw, Katya udah ngomong semua tentang pentingnya lw buat hidup dia,”
“ Maksud lw, apa karena sih Katya itu ngga punya orang tua yang selalu nyayanginya jadi lw rela gw buat dia, dan juga demi itu lw ngorbanin cinta lw,”
“ Lw tau semua, tentang Katya?”
“ Gw tau semua tentang Katya, karena dia adalah temannya temen gw di Bandung, sebelum dia masuk kesekolah gw udah kenal sama dia,”
“ Iya itu lw tau semua tentang dia, tapi lw ngga pernah cerita ke gw tentang Katya sampai akhirnya dia ngomong sendiri ke gw,” ucap Dera sambil menahan air matanya.
“ Emang gw salah sama lw, tapi lw harus yakin gw benar-benar suka sama lw,” jawab Reza sabelum meninggalkannya sendiri dan memberi satu kecupan di pipi Dera.
Malam itu Dera hanya menangis semalaman dikamarnya menyesali perbuatannya yang telah menolak Reza orang yang selama ini dia sayang demi untuk Katya yang belum Dera kenal dengan dekat.
Hampir seminggu Dera dan Reza tidak saling meyapa ataupun senyum, mereka bertengkar sejak malam itu, dan Reza memutuskan untuk duduk semeja dengan Katya dan Dera duduk dengan Chika. Menurut kabar yang berkembang mengatakan bahwa mereka berdua sudah jadian, tapi bagi Dera biarkanlah, karena Dera lah yang menyuruh Reza untuk jadian dengan Katya, dan juga sebulan lagi dia akan tampil sebagai paduan suara, jadi Dera harus latihan ekstra untuk acara itu.
“ Dera thanxnya karna lw gw sama Reza jadian,” ujar Katya saat Dera mencoba untuk melupakan Reza dari hidupnya, terlalu susah buat Dera melupakan Reza, karena mereka berdua selalu bersama, dan saat sedikit mulai sedikit dia dapat melupakan Reza, Katya datang untuk mengingkannya lagi.
“ Apa-apaan sih lw Kat, lw mau nyakitin hati teman gw lagi, ngga nyadar apa lw kenapa dia begini, gara-gara lw,” omel Chika sambil menarik tangan Dera untuk pergi jauh-jauh dari Katya.
“ Ko’ gw, teman lw aja yang bego,” teriak Katya, yang membuat emosi Dera naik, dengan kesal Dera menampar pipi Katya yang mulus itu sambil lari ke toilet dan dicoba dikejar Chika. Katya menangis karena telah ditampar Dera didepan umum dikanti, dan di bawa oleh temen seGanknya serta Reza ke UKS sedangkan Chika mencoba menenangi hati Dera.
Saat bel pulang sekolah, sekolah sudah ramai dengan berbagai gosip kenapa Dera menampar Katya, sebagian orang menatap sinis kearah Dera dan Chika. Sampai didepan gerbang sekolah tangan Dera ditarik oleh Reza.
“ Eh Der, lw apa-apaan sih nampar cewek gw seenaknya,” bentak Reza ke Dera.
“ Eh lw apa-apaan sih Za, bentak Dera seenaknya, emang cewek lw itu pantas dikasih tamparan,” ucap Chika tidak kalah keras.
“ Gw ngga ngomong sama lw, gw mau ngomong sama Dera,” jawab Reza lagi masih dengan nada membentak.
“ Oke lw ngga ngomong sama gw, tapi gw ikut campur dalam masalah ini,” ucap Chika lagi sambil menarik tangan Dera dari Reza.
“ Terserah lw, Der lw kan yang yuruh gw buat jadian sama dia tapi kenapa lw bikin dia pingsan, lw cemburu sama dia karna telah jadi pacar gw,”
“ Cemburu sama lw, makasih, apalagi sama Katya cewek lw yang mulutnya ngga bisa dijaga,” teriak Dera sambil menarik tangannya dari Reza dan berlari menyebrang jalanan, tiba-tiba ada motor yang melaju dengan kencang dan menabrak badan mungil Dera.
Untung saja ketabrakan itu tidak begitu parah, Dera hanya pinsan dan luka-luka sedikit, serta kepalanya ada yang harus dijahit dengan delapan jahitan tapi tidak terlalu parah walaupun begitu Dera harus dirawat dirumah sakit, hanya sedikit tamu saja yang diperbolehkan Dera untuk menjenguknya, sudah beberapa kali Reza datang kerumah sakit untuk minta maaf tapi Dera tidak pernah mengizinkan Reza untuk menjenguknya.
“ Der, lw mau apa gw beliin dech, asal lw jangan minta macam-macam aja?” tanya Chika saat tinggal mereka berdua diruang itu, kebetulan sekarang malam minggu jadi Chika mengingnap untuk menjaga Dera dirumah sakit, Chika memang teman yang setia hampir setiap hari Chika menjenguk Dera sehabis pulang sekolah.
“ Apa ya, gw mau coklat Delfi boleh kan,” jawab Dera dan diangguki oleh Chika. Saat itu jiga Chika langsung menuju Mall yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, setelah berkeliling-liling mencari toko kue Bronwish buat persediaan nanti malam dirumah sakit, Chika melihat Katya dengan cowok lain sedang bermesraan bukan dengan Reza, dengan cepat Chika menghampiri Katya sebelum dia pergi.
“ Eh lw ngga puas apa udah buat hati teman gw sakit, sekarang lw mau coba buat hati Reza sakit juga,” omel Chika kepada Katya dengan kaget Katya menatap wajah Chika.
“ Eh sorry ya, emang gw suka sama Reza tapi kita ngga pernah jadian, dan bilang sama teman lw yang lagi sakit itu, kalau gw sama Reza ngga ada urusan apa-apa,” jelas Katya sambil tersenyum puas kearah Chika.
“ Maksud lw?” tanya Chika dengan heran.
“ Gw kasih tau ya, gw itu sama Reza ngga ada hubungan apa-apa, dia nolak gw, trus dia ngajak gw buat sandiwara kalau kita berdua jadian supaya Dera senang, tapi sayang permainan ini harus tamat karena teman lw ketabrakan,”
“ Jadi…,”
“ Iya, Reza ngga suka sama gw, tapi kemarin dia hampir suka sama gw karena teman lw telah nampar gw, tapi belum dia terima gw, teman lw keburu ketabrakan,” jawab Katya santai sambil menarik pergi pasangannya untuk keluar dan meninggalakan Chika sendiri yang bingung atas kejadian ini semua.
Dengan cepat dia membuka HPnya dan menghubungi HP Reza untuk ketemu di PIM 2, tidak sampai dua puluh menit Reza sudah sampai karena rumahnya tidak terlalu jauh dari PIM 2, Chika menceritakan semua yang dia tahu dari Katya, Reza hanya mengangguk dengan lemah, Reza meminta maaf kepada Dera dan Chika karena telah membohonginya. Dan Reza menceritakan semuanya dengan jelas kejadian yang sebenarnya terjadi. Chika pun mengerti dan dia tahu apa yang harus dia lakukan.
Pukul setengah sebelas malam Chika sudah sampai lagi di rumah sakit, dia melihat wajah Dera yang tertidur dengan pulas rasanya Chika tidak tega menceritakannya.
Sekarang Dera telah sampai rumah, dan dia masih harus dirawat dirumah, tapi dia tidak mau ada satu pun yang menghalanginya untuk latihan paduan suara inti, untung saja masih ada waktu dua minggu sebelum acara dimulai, jadi selama seminggu Dera bisa latihan dirumah, dan seminggu lagi latihan bersama teman yang lainnya, tapi sayang Chika belum berhasil menemukan Reza dengan Dera karena Dera belum mau bertemu siapa saja kecuali Chika dan Orang tuanya.
“ Chik, kabar Reza sama Katya gimana?” tanya Dera saat Chika menjenguk Dera.
“ Mereka putus,” jawab Chika singkat dia tidak mau menceritakan semuanya sebelum keluar dari mulu Reza sendiri.
“ Kenapa?” tanya Dera penasaran.
“ Ngga tau gw, tau-tau putus aja,” jawab Chika, sambil menyuruh Dera jangan bertanya lagi dan Chika menyuruh Dera untuk istirahat. biar cepet masuk sekolah, dan dapat mengikuti pentas paduan suara dengan sukses.
“ Iya Bu Dokter, aku istirahat, biar bisa cepet sekolah,” ucap Dera meledek Chika, dan dijawab Chika dengan pelototan.
Hari ini Dera telah masuk sekolah, tapi Chika belum mengizinkan Reza untuk menjelaskan dia takut Dera belum mau berbicara dengan Reza.
“ Lw masih marah sama Reza ngga?” tanya Chika dengan hati-hati.
“ Ngga juga, biasa aja, emang sih kemarin gw nyadar kalau kita bertiga itu salah semua ngga ada yang benar,” jawabnya datar sambil memaksa tersenyum ke Chika.
“ Nanti pulang sekolah langsung latihan ya?” tanya Chika lagi mengalihkan pembicaraannya, sambil berharap dia dapat mengantarkan Dera latihan vocal, soalnya disana ada Marcel teman les Dera yang lumayan tampan.
“ Iya kenapa, pasti mau ikut, mau ketemu Marcel,” tebak Dera sambil merapikan buku-bukunya, dari kejauhan sepasang bola mata milik Reza terus mengawasi Dera kemanapun.
“ Tau aja, ikut ya,” jawab Chika sambil mengikuti kemana Dera pergi.
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Dera, Chika, dan Reza pun telah datang. Dengan bangga Dera memakai kostum perinya, untuk tampil dengan Group paduan suaranya yang akan menyanyi empat kali, dan mengiringi setiap bintang tamu yang menyanyi.
“ Mamah Bandonya ilang,” teriak Dera sambil memeriksa tasnya untuk mencari Bando malaikatnya.
“ Yang benar, Der?” tanya mamah menanyakan.
“ Iya, tadi aku taruh tas tapi ngga ada,”
“ Ketinggalan kali,” ucap mamahnya lagi.
“ Ngga tau, aku lupa, tapi tadi aku udah taruh tas sebelum pergi,” jawab Dera dengan panik, karena bando itu salah satu attribute kostumnya.
“ Tante sini deh,” ajak Chika sambil membisiki sesuatu ke mamahnya Dera, dan mamahnya hanya mengangguk-angguk sambil ketawa kecil saat mendengar ucapan Chika.
“ Mamah jangan ketawa deh, bando aku hilang,” ujar Dera lagi dengan panik.
“ Iya-iya mamah tahu, tapi kayanya mamah ke toilet dulu ya,”
“ Hmm, jangan lama-lama,” jawab Dera sambil mencari bandonya.
“ Dera, sorry ya kayanya gw ga bisa Bantu nyari bando lw, but gw juga kebelet ke kamar mandi,” ucap Chika sambil berlari-lari kecil ke luar kamar ganti. Dengan BT Dera mencari bandonya sendiri secara terburu-buru karena acaranya akan dimulai dua puluh menit lagi, sampai-sampai Dera tidak mengetahui ada yang masuk keruang gantinya.
“ Hai, pasti lagi cari ini,” sapa seseorang dengan suara serak-serak basah yang mengngagetkan Dera yang sedang mencari bandonya.
“ Ko’ ada di lw, lw nyolong bando gw ya,” tuduh Dera ke Reza dengan jantung yang berdetak kencang, karena kaget melihat Reza, dan sudah lama ngga komunikasi.
“ Sorry, tadi gw nemuin didepan pintu rumah lw, trus kata bokap lw itu punya lw, dan gw disuruh kasih ke lw,” jelas Reza sambil memakaikan bandonya dikepala Dera.
“ Apa-apaan sih lw, lepasin ngga bandonya dari kepala gw, gw bisa pakai sendiri,” ucap Dera dengan suara yang membentak, dan Reza tidak bisa menjawab hanya melepaskan bandonya dan memberikan ke tangan Dera.
“ Tugas lw udah selesai, sekarang bisa ngga lw tinggalin gw sendiri,” ucap Dera lagi dengan nada mengusir.
“ Ngga bisa, karena gw ada disini dengan membawa banyak tugas,”
“ Maksud lw?” tanya Dera dengan heran.
“ Iya, pertama gw mau minta maaf sama lw, atas kelakuan gw yang kemarin, karna gw lw jadi tabrakan,”
“ Udah gw maafin dari kemarin-kemarin, trus udah selesaikan tugasnya please tinggalin gw,”
“ Belum selesai, yang kedua, gw mau jelasin ke lw tentang hubungan gw ke Katya, gw ga pernah suka sama Katya, apalagi jadian sama Katya,”
“ Hubungannya sama gw apa?” tanya Dera memotong pembicaraan Reza dengan ketus.
“ Makanya dengerin dulu, dari dulu sampai sekarang gw hanya suka sama lw, gw jadian sama Katya hanya bohongan, hanya untuk buat lw senang, sebab lw kan yang nyuruh gw buat jadian sama Katya,”
“ Jadi lw bohongin Katya, gw, sama orang lain dengan berpura-pura jadian sama Katya?”
“ Ngga, Katya tau kalau kita hanya berpura-pura pacaran itu pun hanya didepan lw doang,” ujar Reza sambil terus menatap wajah Dera, dengan berharap Dera mempercayainya. Dan Dera hanya menanggapinya dengan ucapan Oh.
“ Der, lw harus percaya sama Reza, but yang di bilang Reza itu benar, Reza hanya ingin lihat lw senang, ngga lebih, mungkin gw aja yang terlalu membesar-besar kan ini semua, karena gw suka sama Reza jadi lw jangan sia-sia kan Reza yang tulus suka sama lw” bilang Katya yang tiba-tiba datang, dan membenarkan semua ucapan Reza.
“ Gw percaya ko’ sama kalian,” kata Dera sambil menganggukan kepalanya.
“ Tapi lw mau kan maafin kita?” tanya Katya penuh harapan.
“ Iya gw maafin kalian, dan kalau kalian pacaran beneran gw juga ngga marah,” ucap Dera sambil memberikan senyumnya yang paling manis ke Reza dan Katya.
“ Bener lw Der, tapi sayangnya gw udah punya pengganti Reza,” jawab Katya sambil memanggil kekasihnya yang baru, dan mengenalinya.
“ Dera, gw suka sama lw, lw masih mau ngga jadi cewek gw, Katya kan udah ada yang menyanyanginya, jadi udah ngga ada halangannya?” tanya Reza dengan mengharapkan jawabannya iya.
“ Sorry,” jawab Dera dengan halus.
“ Maksud lw, lw nolak gw, kenapa Der, ada cowok lain di hati lw,” ujar Reza memelas.
“ Iya, gw ngga bisa untuk nolak lw,” Jawab Dera lagi.
“ Jadi lw nerima gw,” teriak Reza sambil meloncat senang. Dan Dera hanya mengangguk dengan mantap.
“ Ye…,” teriak Chika dengan senang sampai jatuh dari balik pintu rupanya dari tadi dia dan mamahnya Dera menguping pembicaraan mereka semua.
“ Heeh, sorry tadi gw ngupingin lw semua,” bilang Chika dengan tertawa dan menahan rasa sakitnya soalnya pas jatuh ditindiin mamahnya Dera.
“ Iya sama tente juga minta maaf udah nguping, tapi kayanya Dera harus tampil deh, soalnya acaranya ingin mulai,” ucap mamah Dera sambil tersenyum.
Hari ini adalah hari yang paling indah bagi Dera, karena hari ini dia resmi jadi pacarnya Reza dan Dera tampil dengan sempurna sebagai paduan suara. Begitu juga Chika karena telah meyatukan Dera dan Reza.

Hantu!!!

Malam merayap perlahan. Bulan enggan menampakan dirinya dengan penuh, hanya sedikit cahaya saja yang terpantul. Dingin mulai merambati kulit mulus Nina yang sedang berjalan seorang diri menuju halte bus. Jam diarlojinya telah menunjukan setengah sepuluh malam.
Sudah dua hari ini, Nina pulang malam, karena harus menyelesaikan tugas laporan. Di dalam perjalanan, Nina mulai memikirkan hal-hal yang menyeramkan, apalagi kalau mengingat cerita horor yang diceritakan olah teman-temannya, tentang hantu nenek-nenek yang selalu mencari darah wanita pada malam hari.
“ Mana mungkin hari gini, masih ada hantu,” pekik Nina dalam hati.
“ Bisa aja, banyak saksi mata yang melihat hantu nenek tua itu,” ucap Nina lagi dalam hati, membuat dirinya semakin takut untuk meneruskan perjalanan ke halte.
“ Tapi, gw ngga boleh takut, kan gw hafal doa-doa, buat ngusir hantu,”ucap Nina, sambil mengeluarkan MP3nya, dan didengarkan sekeras-kerasnya.
Lagu yang Nina dengarkan hampir habis, disela pergantian lagu, Nina mendengar teriakan minta tolong, yang semakin lama, semakin keras suaranya. Nina melepaskan headsetnya untuk memastikan benar suara tersebut. Ternyata benar itu suara jeritan minta tolong dari seorang perempuan. Nina mulai mencari arah suara tersebut, matanya meyebar pandangan ke sekelilingnya, dia tidak melihat apa-apa, hanya jalanan yang sunyi senyap, dan beberapa kilauan lampu, dari rumah penduduk.
Nina mulai berjalan lagi, tetapi suara jeritan meminta tolong semakin terdengar keras. Ia berhenti sejenak mengamati sekeliling, tetapi tetap tidak melihat apa-apa. Nyalinya menciut, akhirnya Nina berlari meninggalkan tempat itu, teriakan minta tolong terus mingikutinya.
Persimpangan jalan sudah terlihat didepan mata, ia terus berlari dengan cepat, untuk sampai ke halte bus. Tapi langkahnya segera berhenti ketika matanya menangkap dua sosok manusia yang sedang berdiri disebrang jalan, tepat dibawah lampu jalanan. Perempuan itu meronta-ronta meminta tolong, dan mencoba melarikan diri dari dekapan seorang nenek-nenek, yang sedang mengisap darah perempuan tersebut.
Nina melihat dengan jelas, perempuan itu meronta-ronta meminta tolong, sampai akhirnya tergeletak tak bernyawa. Melihat hal itu ia hanya berdiri dengan rasa takut. Kakinya sulit sekali di jalankan, sampai akhirnya Nenek-nenek tersebut tepat berada di sampingnya, dan ingin menerkamnya, Nina bingung harus melakuakan apa, sebab tak ada orang disana selain Nina dan perempuan yang tak bernyawa itu.
“ Nin, lw kenapa sih, teriak-teriak?” tanya Gaby, dengan bingung.
“ Gw ada dimana, kita ada dimana Gab?” tanya Nina dengan teriak.
“ Ya, ampun Nin, lw itu ada di rumah gw, tadi pas lagi ngerjain laporan, lw ketiduran, mau dibangunin, tapi kayanya lw udah ngantuk banget, tenang aja tadi gw udah ngasih tau ke nyokap lw,”
“ Nenek-nenek itu mana Gab, gw takut,” ucap Nina ketakutan.
“ Lw, itu mimpi buruk, disini ngga ada nenek-nenek, tenang aja lw aman, sama gw,” jelas Gaby ke Nina dan meneruskan tidurnya.
Ternyata itu semua hanya mimpi, Nina meneruskan tidurnya, dan tidak lupa berdoa supaya tidak mimpi buruk lagi, dan mengucapkan “Alhamdulilah”, karena dia telah di selamatkan dari cengkraman hantu nenek-nenek tua itu.